PI023 – Hari Bersama Sara

“Tulislah cerita yang mendeskripsikan seseorang yang sedang malu. Berusahalah untuk tidak menuliskan kata malu. Buatlah pembaca mengerti dan merasakan apa yang sedang dialami oleh tokoh dalam cerita tersebut.”

###

Siang ini cukup terik dan berdebu. Beruntungnya kondisi di jalan tidak sepadat pagi atau sore hari. Aku ingin segera sampai ke tempat tujuan. Jam dua kurang empat menit, aku sudah tiba di Mall Kota Kasablanka. Aku mampir sebentar ke toilet di dekat parkiran motor. Aku basuh muka, lap hingga bersih dan tak lupa merapikan kemeja. Oia, rambut juga harus ditata ulang agar tidak tampak berantakan. Pokoknya hari ini aku harus sempurna. Penampilan selalu yang pertama kali dinilai oleh perempuan saat ia “kopi darat” dengan seorang pria.

Namanya adalah Sara Aurelia. Seorang akuntan yang cantik dan menarik. Setidaknya itu kesan pertama yang menempel di otakku saat melihat fotonya. Sara dikenalkan oleh teman dari saudara iparku. Sudah sekitar dua minggu ini, kita berdua saling berkomunikasi lewat Whatsapp. Ramah, enerjik dan spontan menambah daya tariknya. Itulah 5  hal yang sekarang bisa aku gambarkan tentang dirinya.

Hari ini kita akan bertemu untuk pertama kalinya. Aku juga penasaran apakah 5 hal tadi masih sama dengan aslinya atau tidak. Karena seperti yang aku tahu, kadang sikap, penampilan dan gaya bahasa seseorang di media sosial bisa saja sangat berbeda dengan yang aslinya. Walau memang, tidak menutup kemungkinan kalau ia adalah dirinya yang sebenarnya, baik di media sosial atau pun kehidupan sehari-hari. Aku akan membuktikannya sendiri hari ini.

Lima menit telah berlalu. Udara dingin Mall yang aku dambakan sejak dari luar, kini sedang masuk menelusuk ke dalam kulit dan pori-poriku. Sejuk sekali rasanya di sini.

Sekarang, aku sudah berada di depan Marugame Udon. Di sini adalah tempat janjian kami. Sara dan aku sama-sama suka makan Udon. Menurut Sara, Udon di sini adalah yang terenak di Jakarta.

“Mas Rifqi!”

Seseorang memanggilku. Ia melambaikan tangan kemudian menghampiriku. Aku masih memasang muka bengong dan mulut yang menganga saat perempuan itu datang dan memberikan senyuman indahnya.

Dug! Dug! Dug! Ini bukanlah suara bedug melainkan degupan jantungku yang seketika berderap kencang. Subhanallah! Cantik sekali. Apakah ia Sara? Aku segera sadar dari lamunan dan berusaha bersikap cool.

“Sara?” tanyaku agak ragu.

Ia tersenyum dan menganggukkan kepala.

“Sudah lama menunggu ya, Mas?”

“Enggak. Baru beberapa menit kok.”

“Yuk, kita masuk aja. Mumpung gak terlalu ramai.”

Aku masih saja berdiri mematung dan mataku masih terpesona melihat Sara. Ia menepukkan tangannya sekali di depan mukaku. Pelan tapi cukup ampuh membangunkanku dari lamunan. Duh, fokus dong, jeritku dalam hati. Aku tidak boleh nge-blank. Aku harus tetap cool.

Sara memberiku kode supaya mengikutinya masuk ke dalam resto itu. Aku mengekor di belakangnya. Sambil mengantri dan menunggu giliran membawa nampan dan lainnya, ia berkata kalau ia bisa langsung mengenaliku dengan mudah karena foto profil di Whatsapp-ku sangat jelas. Seorang pria tambun, berjidat lebar, memakai kacamata dan mengenakan jaket hitam. Dan hari ini pun, aku mengenakan setelan yang hampir sama. Oh, aku mudah sekali ditebak. Tadinya aku pikir aku akan susah dicari. Ya setidaknya ada telpon-telponan gitu lah kayak anak muda di serial FTV yang saling bertanya kamu dimana, aku disini, pakai baju apa, dan sebagainya. Yang penting, Nona Manis ini sudah bisa bertemu denganku.

Sara memesan Beef Curry Udon, sedangkan aku memesan Niku Udon. Brokoli Tempura dan Egg Tempura menjadi tambahannya. Ternyata ia juga mengambil tempura yang sama sepertiku. Selesai membayar makanan, kita berdua memilih untuk duduk di meja makan yang berada paling pojok.

Sambil melahap Udon. kita berdua ngobrol ngalor-ngidul. Membicarakan banyak hal. Sara pintar sekali bicara. Seluruh topik yang kita bahas, ia mengetahuinya dengan baik. Aku hanya menimpali sedikit-dikit. Bukan karena tidak mengerti apa yang ia omongkan, aku merasa gugup. Suer! Takut salah ngomong atau malah ngelantur. Aku lebih banyak diam, kadang menunduk dan sesekali mencuri pandang ke wajahnya yang cantik, matanya yang jernih dan senyumannya yang bisa mengalihkan duniamu.

Aku memang tidak biasa bertemu seorang wanita seperti ini. Apalagi Sara seorang yang aktif. Tapi aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Sara, tahu film apa yang lagi tayang di bioskop sekarang?”

“Tahu, dong. Aku kan penyuka film, Mas.”

“Oh, Movie Freak juga ternyata.”

“Emangnya Mas hobi nonton?”

“Banget.”

Sara tersenyum padaku lalu ia mengeluarkan handphone.

“Nih, Mas. Film yang tayang sekarang itu..” Sara menunjukkan jadwalnya.

“Kita nonton Fast and Furious 8 aja, yuk!”

Sara mengangguk. Setelah selesai makan kita bergegas ke bioskop. Kita pilih film yang tayang jam 15.45. Jadi kita bisa Shalat Ashar dulu kemudian nonton. Semoga hari bersama Sara ini menjadi hari yang akan kukenang nanti. Walau bedug di dalam hati semakin keras terasa, tapi aku bisa menguasainya. Yosh! Semangat, Brother!

 

Advertisements