PI021 – Dikejar Zombie

“Tulislah cerita yang mendeskripsikan seseorang yang sedang tegang. Berusahalah untuk tidak menuliskan kata tegang. Buatlah pembaca mengerti dan merasakan apa yang sedang dialami oleh tokoh dalam cerita tersebut.”

Untuk Project kali ini, aku mengambil contoh adegan menegangkan dari sebuah cerita  Hawk Knights 1 – First Battle.

###

Nafasku masih kuatur. Sesak sekali rasanya dikejar-kejar zombie. Kukira zombie hanya ada di televisi tapi mereka nyata! Sekarang aku berada di lantai dua sebuah gedung apartemen. Dari jendela dapat kulihat zombie-zombie itu menangkap orang-orang lalu menggigit tubuh mereka dan dalam rentang waktu hanya 10 detik, si korban telah menjadi zombie juga. Yack! Jijik sekaligus mengerikan melihatnya.

RING!

Handphoneku berdering. Ternyata dari Elena.

“Elena, kau baik-baik saja? Dimana kau sekarang?”

“Aku bersama orang lainnya di Lembah Atlas. Disini ada camp tentara yang sudah tidak terpakai. Cepatlah kesini, Honey. Aku ketakutan. Apa kau lihat, Rega?”

“Syukurlah kau baik-baik saja. Rega sedang bersama Al. Aku akan menyusul jika keadaan sudah aman.”

Kemudian telepon itu kumatikan. Aku kembali melihat ke jendela. Kemana zombie-zombie itu pergi? Mereka sudah tidak ada lagi di sana. Lalu aku mendengar jeritan dari lantai satu. Para zombie itu menerobos masuk ke dalam apartemen ini. Gawat! Aku harus melarikan diri. Sepertinya dering telepon tadi menarik perhatian mereka. Tidak ada tempat lain yang aman di sini selain ke atas. Aku pun berlari hingga sampai di atap gedung. Sesekali kulihat ke bawah. Zombie itu tidak kenal kata menyerah. Mereka terus mengejarku.

Dari atap gedung ini dapat kulihat kegelapan malam di Nicnic City dihiasi oleh cahaya oranye hampir di setiap sudut kota. Cahaya yang berasal dari ledakan-ledakan besar yang kudengar sedari tadi. Apa yang harus aku lakukan? Zombie itu akan segera sampai ke sini. Aku melihat ke sekitar atap. Aku mencari sesuatu yang bisa kugunakan sebagai senjata. Ah, bingo! Aku melihat sebuah besi panjang tergeletak di dekat pagar pembatas atap. Kurasa ini bekas tiang penyangga pagar yang sudah rusak. Aku memungutnya lalu kugenggam erat-erat dengan kedua tanganku. Jantungku berdegup sangat kencang. Lebih cepat dari derap kaki kuda pacu di arena balapan. Badanku basah oleh peluh yang terus bercucuran tiada henti. Di dalam hati aku berdoa. Semoga mimpi buruk ini segera berlalu.

Samar-samar kudengar suara mereka semakin mendekat. Suaranya ibarat sapi yang sekarat di tangan sang jagal. Ah, bukan. Suara mereka lebih mirip seperti suara babi yang sedang marah. Apa pun itu aku sangat tidak menyukainya.

Besi itu kugenggam lebih erat lagi daripada sebelumnya. Saat zombie pertama muncul di pintu atap, tanpa pikir panjang langsung kuhantam kepalanya sekeras mungkin. Kontan saja ia langsung terjatuh. Hatiku masih was-was. Ini baru satu, masih ada puluhan atau mungkin ratusan zombie lain yang akan berdatangan. Aku harus selamat. Aku harus bertahan. Jika pun aku mati aku tak mau jadi zombie. Aku sudah punya rencana B. Aku akan meloncat dari sini. Lebih baik aku mati karena ulahku sendiri daripada harus mati lalu hidup sebagai zombie.

Zombie kedua, ketiga, keempat dan seterusnya terus berdatangan. Dengan sekuat tenaga aku hantam mereka satu persatu. Aku pukul di kepala, tangan, kaki, punggung. Pokoknya apa saja yang kulihat aku hantam. Zombie-zombie itu berjatuhan tapi bangkit kembali dengan luka dan memar bekas pukulanku. Oh, mereka tangguh sekali. Ternyata hanya zombie yang kepalanya hancur hingga otaknya keluar yang benar-benar mati. Jika semua zombie harus kubunuh dengan cara itu maka aku butuh senjata yang lebih baik daripada besi ini.

Aku sudah sangat kelelahan. Tanganku sudah tidak sanggup lagi memukul mereka. Aku sudah pasrah. Mungkin ini saatnya aku lakukan rencana B. Dari pintu atap itu muncul zombie lebih banyak lagi. Aku berdiri ketakutan di tepi atap. Kakiku bergetar terus-menerus. Apakah aku akan mati saat ini? Di tengah kepanikanku, tiba-tiba saja kudengar suara tembakan beruntun mengarah kepada para zombie. Tembakannya tepat mengenai kepala mereka. Aku melihat ke atas, ternyata ada sebuah Helikopter pemerintah yang datang. Ada lima tentara yang menembaki mereka. Lalu seseorang lainnya melemparkan tali tangga kepadaku. Aku meraihnya dan tubuhku di angkat ke atas.

(Tertarik dengan cerita ini? Cerita selengkapnya dapat kamu cek di sini.)

Advertisements