PI006 – Wawancara

Project selanjutnya adalah menulis wawancara fiksi dengan diri sendiri, teman, selebritis atau tokoh khayalan. Tulislah wawancara tersebut seperti gaya tulisan dari majalah terkenal.

####

Namanya adalah Yayat Permana. Dia adalah seorang ayah yang hebat. Sifatnya yang ramah dan penyabar membuatnya kuat menghadapi segala cobaan hidup. Sosok Ayah dalam dirinya adalah salah satu motivasi dan pembakar semangat bagi anak-anaknya. Terutama si bungsu yang bernama Ishfah. Kini ia telah dewasa dan sekarang melanjutkan hidup tanpa seorang ayah.

Pada edisi ini, Think Top Magazine akan membahas seputar kehidupan sang Ayah dari narasumber yaitu Mas Ishfah.

Apa yang paling Mas ingat dari Bapak?

Hal yang paling saya ingat tentang Bapak adalah Bapak itu orangnya sabar, lemah lembut, bijaksana namun ia juga bisa tegas bila diperlukan. Pesan dari Bapak yang paling saya ingat yaitu agar saya tidak memelihara rasa dendam karena hal itu bisa merusak hati dan jiwa kita. Sudah saya ketahui dengan jelas bahwa gara-gara rasa dendam ini, keluarga besar saya menjadi goyah dan banyak konflik antar sesama keluarga.

Bapak juga pernah mengatakan pada saya untuk segera menikah. Untuk hal yang satu ini saya sedang berusaha mewujudkannya. Beliau mengatakan hal ini saat sedang dirawat di RSUD Tasikmalaya. Kondisinya lemah dan memprihatinkan. Hidung dan tangan Bapak dipasangi inpus, tidur tidak bisa nyenyak, Bapak juga memakai pampers untuk orang dewasa. Saya saja yang melihatnya merasa sedih dan terharu, lalu bagaimana dengan Bapak yang merasakan penyakitnya. Penyakitnya yang paling utama adalah diabetes. Penyakit gula ini sudah lama beliau derita. Dalam dua tahun terakhir ini beliau sering bolak-balik ke rumah sakit untuk diperiksa atau bahkan rawat inap.

Saya juga ingat waktu itu Bapak (dalam kondisi lemah) menelpon dan mengatakan bahwa ia sedang membutuhkan uang untuk pengobatan. Sayangnya saya sedang tidak memilikinya pada hari itu. Alhamdulillah, keesokan harinya saya mendapatkan rezeki dan segera transfer ke rekening Bapak. Andai waktu dapat diputar, saya ingin kembali ke masa itu dan mengirimkan uang yang lebih banyak untuk pengobatan Bapak karena saya tahu uang yang saya kirim pada waktu itu tidaklah banyak.

Dimana Bapak dilahirkan?

Beliau lahir di Kampung Jaman, Urug Tasikmalaya pada tanggal 14 Juni 1949.

2016-04-08-15-40-34-1

Bagaimana kehidupan masa kecilnya?

Masa kecilnya dihabiskan disana. Ketika beranjak remaja, Bapak sekolah di STM Tasikmalaya. Beliau pergi-pulang ke sekolah mengendarai sepeda dengan jarak tempuh kurang lebih 40 kilometer. Wow, jarak yang jauh sekali dan ia melakukannya setiap hari.

Hidup Bapak memang penuh perjuangan. Ayahnya (Kakek Ahmad Saroji) berprofesi sebagai guru ngaji yang penghasilan setiap bulannya tidaklah banyak. Kakek harus membagi uang tersebut untuk menghidupi Bapak dan saudaranya yang banyak. Jika dihitung secara perhitungan matematika dan logika maka ini tidak mungkin. Namun, Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya, Dia selalu memberikan nikmat dan rezeki untuk Bapak, bahkan seringkali rezekinya itu datang dari hal yang tidak pernah Bapak duga.

Apa pekerjaan Bapak?

Bapak bekerja sebagai mandor di WIKA. Dia juga bisa menggambar denah bangunan, menghitung rancangan anggaran biaya, mengawasi para pekerja dan lain-lain. Bapak itu seorang yang pintar dan teliti. Ia juga biasa mengurusi para pekerja bangunan. Banyak sekali orang-orang yang ikut dengan Bapak untuk bekerja di proyek bangunan yang sedang Bapak kerjakan.

Keahliannya itu ia turunkan kepada kakak pertama dan adik-adik dari Ibu. Mereka telah belajar banyak dari Bapak. Sedangkan saya tidak mempunyai bakat dalam hal itu. Saya payah dalam menggambar dan berhitung jadi tidak cocok jika menjadi arsitek.

Apakah Bapak memiliki hobi khusus?

Hobi Bapak yang paling ia sukai adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan ikan. Bapak suka memancing ikan dan memeliharanya (mulai dari pemijahan, pemisahan telur ikan hingga jadi anak ikan, dan perawatan hingga menjadi ikan dewasa). Bapak juga bisa menangkap ikan menggunakan jala. Kalau di kampung saya itu disebut dengan kecrik. Saya pernah diajarinya untuk menggunakan kecrik tetapi tetap saja tidak pernah bisa membentuk bulat sempurna seperti Bapak. Kalau soal perikanan, my father is the best!

Selain ikan, Bapak juga senang memelihara ayam dan bebek. Bahkan sewaktu saya kecil, beliau memiliki domba adu dari Garut.

Katanya Mas pernah diseruduk domba peliharaan Bapak?

Ya, benar. Waktu itu saya masih berumur sekitar 7 atau 8 tahun. Saya masih sekolah di SD. Pada hari minggu saya ikut Bapak ngangon (menggembala) dombanya. Domba yang dimiliki Bapak adalah domba adu dari Garut yang bertubuh gempal, tangguh dan memiliki tanduk yang besar dan kuat. Bapak memiliki 3 ekor domba. Nah, salah satu dari domba itu saya elus-elus tanduknya. Eh, dia mundur mengambil kuda-kuda dan kemudian dengan sangat cepat si domba menyeruduk tubuh saya yang masih kecil. Saya terpental ke parit sambil menjerit menahan sakit dan menangis sejadi-jadinya. Melihat hal ini, Bapak malah menertawai saya.

Beberapa detik kemudian, Bapak segera menarik tubuh kecil saya dari parit dan mencoba menenangkan saya. Lalu, si domba adu itu diikat oleh Bapak kemudian dituntun kembali menuju kandangnya.

Wow, pengalaman yang cukup seru tapi sakit yah Mas.

Ya begitulah. Jika mengingat hal itu lagi, kadang saya juga suka tersenyum sendiri. Oia, selain ternak, Bapak juga senang sekali mendengarkan musik.

Siapa artis favoritnya?

Banyak sih. Seperti Bon Jovi, Celine Dion, Panbers, Koes Plus dan musisi klasik lainnya. Bapak juga suka dengan genre slow rock. Well, sedikit banyak hobinya nurun kepada saya. Saya jadi menyukai lagu-lagu yang sering beliau dengarkan.

Jika mengenang masa lalu dengan Bapak, banyak hal yang saya ingat walau saya tidak pernah bisa lama tinggal di rumah karena sejak kecil hingga sekarang saya selalu jauh dari rumah. Lulus SD saya sudah mesantren, terus lanjut kuliah dan kerja. Jadi, waktu yang saya habiskan di rumah bersama Bapak tidaklah banyak.

Pada liburan natal tahun 2015 adalah hari terakhir saya bertemu dengan Bapak. Karena sebulan kemudian beliau telah tiada. Untuk hal ini, saya sangat sedih. Karena pada hari libur itu, saya hanya bertemu dengan Bapak selama 3 hari.

Lalu kapan Mas mengetahui Bapak meninggal dan bagaimana Mas menghadapinya?

Beliau wafat pada hari Senin 25 Januari 2016 (15 Rabi’ul Akhir 1437 Hijriyah).  Pagi hari itu, saya sudah bangun untuk melakukan ibadah sahur. Saya berniat untuk melakukan Puasa Senin Kamis mencontoh Nabi Muhammad. Namun 5 menit menjelang adzan subuh, hape berbunyi. Teteh menelpon dan mengatakan bahwa Bapak sudah meninggal. Ia menelpon sambil menangis tersedu-sedu. Mendengar hal itu, saya segera mengambil air wudhu kemudian sholat subuh. Setelah sholat, kakak sulung saya menelpon dan mengajak pulang bersamanya dengan kakak ketiga. Saya segera bergegas pergi setelah memberitahu teman kos sekaligus teman kerja, Ramdan. Saya meminta dia memberitahukan hal ini kepada teman-teman di kantor.

Saya dan kedua kakak bertemu di gerbang tol Bekasi Timur. Perjalanan menuju Tasikmalaya hanya ditempuh dengan empat jam perjalanan saja. Kakak sulung menyetir mobil dengan cepat dan mobil kita beberapa kali hampir saja nyenggol atau bertabrakan dengan kendaraan lainnya. Saya tahu kakak sulung  sedang labil hati dan pikirannya karena kepergian Bapak.

Sesampainya di rumah, kakak sulung langsung menjatuhkan diri di depan masjid sambil berteriak-teriak meminta maaf kepada Bapak. Sementara saya dan kakak ketiga segera mengambil air wudhu untuk kemudian melakukan sholat jenazah. Sebelumnya saya sudah melihat wajah Bapak untuk yang terakhir kali saat jemaah lainnya membantu membukakan kain kafan yang menutupi wajah Bapak. Setelah sholat. jenazah Bapak segera diantar ke makam. Prosesi pemakaman pun berjalan dengan khidmat dan rasa sedih dan haru menyelimuti semua hati dan pikiran keluarga kami. Tapi kami harus tetap kuat dan tabah. Kami harus meneruskan hal-hal kebaikan yang selama ini Bapak ajarkan kepada kami.

Saya sendiri berusaha tegar dan tabah menghadapi hal ini. Saya yakin bahwa Bapak sudah menemui takdirnya. Saya berharap Bapak mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Alam kuburnya luas dan diterangi cahaya ilahi. Saya berdoa semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya selama hidup di dunia. Amin

Dari cerita Mas, sepertinya Mas dekat dan sayang Bapak. Kenapa Mas menyayangi beliau?

Memang saya lebih dekat dengan Bapak daripada dengan Ibu. Saya biasa membicarakan banyak hal kepada Bapak, mulai dari masalah di sekolah/kuliah, tempat kerja, bahkan trending topic yang sedang hangat dibicarakan masyarakat.

Saya menyayangi Bapak karena Bapak juga menyayangi saya dan keluarga. Bapak selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga. Bapak akan melakukan apa pun agar bisa membahagiakan kami. Sekarang setelah beliau tiada, saya sedih karena saya belum bisa membahagiakan beliau. Saya rasa, apa yang telah saya berikan atau persembahkan untuk Bapak masih kurang atau bahkan belum bisa memuaskan beliau.

Hal yang paling menyedihkan bagi saya adalah ketika ada seseorang yang meminta bantuan sedangkan saya tidak bisa membantunya baik secara materi, tenaga atau pun hal lainnya. Oleh karena itu, saya bertekad akan berusaha semaksimal mungkin supaya bisa segera menjadi laki-laki yang sukses dan mapan yang bisa membantu keluarga, teman dan orang lain yang membutuhkan. Saya sadari benar, ketika seseorang sedang membutuhkan bantuan dan tidak ada yang bisa membantunya maka ia akan semakin terbebani dan masalah yang sedang ia hadapi tidak kunjung berakhir.

Terakhir, jika Bapak bisa melihat dan mendengar Mas, apa yang ingin Mas sampaikan untuk beliau?

Pertama, saya berdoa semoga Bapak bisa mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah dengan diluaskan  dan diterangkan di alam kuburnya. Allhumagfirlahu warhamhu wa afihi wa’fu anhu.

Kedua, saya ingin mengatakan bahwa rencananya tahun ini saya mau menikah. Saya mohon doa dan restu Bapak. Nanti di hari H saya pasti akan sedih karena Bapak tidak ada di sana menemani saya. Padahal waktu itu Bapak pernah berjanji akan menemani saya hingga pelaminan. Pa, doakan saya semoga urusan saya lancar dan bisa menjadi anak yang Bapak banggakan.

Saya tahu, saya belum bisa sepenuhnya membahagiakan Bapak, tapi saya berjanji saya akan selalu menjaga nama baik dari Bapak Yayat Permana. Walau Bapak sudah tiada, saya bersyukur masih ada Ibu. Saya akan membuat Ibu bangga, Pa.

Semoga Bapak bisa tenang disana. Kami sekeluarga selalu mendoakan kebaikan untuk Bapak.

Advertisements