PI001 – Deskripsikan Kenalan

Latihan pertama adalah memilih sepuluh orang yang aku kenal dan mendeskripsikan setiap orang itu dalam kalimat. Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan terperinci.

Kalimat deskripsi adalah kalimat yang berisi gambaran sifat-sifat benda yang dideskripsikan. Sifat-sifat itu antara lain, berupa ukuran (besar-kecil, tinggi-rendah), warna (merah, kuning, biru), rasa (manis, pahit, getir, halus, kasar), atau sifat-sifat fisik yang lain. Kalimat deskripsi menggambarkan atau melukiskan sesuatu sehidup-hidupnya, seperti keadaan alam, ruangan, dan keindahan wajah seseorang. Dengan kata lain, kalimat deskripsi adalah kalimat yang menggambarkan keadaan, bentuk, atau suasana tertentu, seperti benda, orang, tempat sesuai dengan objek yang sebenarnya. Dengan kalimat deskripsi, pembaca seolah-olah melihat, mendengar, dan merasakan sendiri tentang hal yang disampaikan dalam suatu teks. Dengan kata lain, kalimat deskripsi merupakan kalimat yang melukiskan sesuatu, menyatakan apa yang diindra, melukiskan perasaan, dan perilaku jiwa dalam wujud kalimat.

Kenalan

Nah, sekarang aku akan menuliskan deskripsi tentang kenalan atau orang-orang yang dekat denganku dalam bentuk kalimat deskripsi.

Pertama adalah Iis. Dia adalah teman masa kecil di kampung halamanku. Iis mempunyai rambut ikal yang panjang terurai berwarna hitam. Kulitnya putih bersih. Ia ramah dan mudah sekali memberikan senyuman. Kami sering mengobrol untuk saling curhat tentang masalah pribadi terutama mengenai pasangan masing-masing. Biasanya dia yang mulai bercerita tentang curahan hatinya atau melemparkan pertanyaan kepadaku bak seorang reporter infotainment.

Temanku yang kedua bernama Lia. Ia adalah teman SMA-ku. Lia itu pintar dan dapat diandalkan. Namun ia juga bisa sangat menyebalkan karena sifat jail dan usilnya. Lia itu cerewet banget. Kalau sudah ngomong, duh nyerocos terus tanpa henti. Untungnya dia cantik. Jadi, kalau pas dia nyebelin masih tetap enak dipandang mata. πŸ˜€

Ari ‘Bule’ adalah namanya. Ia temanku saat sekolah di SMA. Aku, Ari dan Lia merupakan teman sekelas. Kalau bicara tentang si Bule, aku selalu ingat akan keramahannya. Dia itu ramah kepada siapa pun. Orangnya asyik dan humoris. Dia juga terkenal di sekolah. Ari punya perawakan badan yang kecil dan agak pendek tapi karena kulitnya lebih putih bahkan dari teman-teman cewek, dia dijuluki dengan nama Bule.

Selanjutnya ada Yogie. Dia temanku saat di pesantren. Dia juga teman sekelasku di Tsanawiyah. Yogie mempunyai ciri khas di bagian dagu yaitu tompel hitam. Tompelnya itu menjadi pembeda di antara teman-teman yang lainnya. Saat aku kerja di Bandung, aku sering berkunjung ke rumahnya bahkan menginap. Mama Yogie dan keluarganya bahkan sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarganya. Untuk hal ini aku sangat bersyukur. Aku seperti menemukan keluarga baru. Karena bagiku keluarga itu tidak selalu identik dengan orang yang bertalian darah atau satu garis keturunan. Keluarga adalah orang-orang baik yang bahagia menyambutmu kembali kepada mereka. Mereka memberikanmu naungan, perlindungan, kenyamanan dan kasih sayang. Keluarga adalah sesuatu yang berharga.

Kemudian ada Samba. Dia teman satu tim denganku saat kerja di Call Center Garuda Indonesia. Orangnya ulet, giat dan semangat dalam belajar dan bekerja. Samba itu sopan dan orangnya ‘ga enakan’ dengan orang lain. Agak berbeda denganku yang suka frontal dan gampang marah (pada saat itu). Selama sembilan bulan bekerja dengannya, aku semakin dekat dengan Samba. Hal yang paling aku ingat adalah Samba kurang fasih berbicara dalam Bahasa Inggris. Ketika ada telpon yang masuk dan ternyata yang menelpon itu adalah orang luar negeri yang menggunakan bahasa inggris, Samba akan berusaha meng-handle-nya dulu tetapi jika sudah menyerah, dia berkata, “I‘m sorry, Sir. I’m little english. I transfer you to my friend.” Maksudnya Samba adalah seperti ini, “Maafkan saya, Pak. Saya hanya bisa berbicara bahasa inggris sedikit dan tidak lancar. Saya akan mentranfer atau mengalihkan telpon Bapak kepada Agent Call Center yang lainnya.” Dan setelah itu dia akan menarikku dari workstation dan duduk menggantikannya. Well, lepas dari semua itu, Samba is my best friend. Dia sering sekali menolongku dalam berbagai hal. Aku juga masih ingat saat itu, aku dan teman-teman dari tim di CC pergi berkunjung ke rumahnya yang terletak di daerah gunung. Rumahnya sejuk dan nyaman. Kedua anaknya sangat dekat dengan Samba. Saat kita datang ke rumahnya, kedua anaknya tersebut nempel terus dengan Samba. Melihat hal itu, aku merasa iri. Ingin sekali segera punya istri dan dapat membangun keluarga bersama-sama. Aminn.

Nomor enam adalah Ridwan. Dia adalah teman satu tim denganku dan Samba. Ridwan itu periang, senang bercanda dan (ngg… agak gimana yah), dia itu konyol dan suka gak jelas. Hehe.. πŸ™‚ Namun lepas dari semua itu dia adalah orang baik. Dia juga orang yang memberikanku informasi tentang pekerjaan yang sekarang aku miliki. Terima kasih, Wan.

Jangkung, ramping dan punya suara bagus. Dialah Eby. Dia temanku saat di Call Center dulu. Hal yang lain aku ingat tentang dia adalah Virgo. Dia memiliki sifat dan karakter yang hampir sama denganku karena aku juga Virgo. Sifat kita yang paling menonjol adalah keras kepala, jutek, egois, pintar, selalu kekeuh terhadap pendapat sendiri, dominan, sensitif (bahkan lebih dari perempuan) namun tetap peduli terhadap perasaan orang lain. Hal yang paling berbeda dari kita berdua yaitu, aku lebih cenderung pendiam sedangkan Eby gak bisa diem, tipe haha-hihi, senang ngobrol dan mudah bergaul.

Lalu ada Ramdan. Dia temanku sejak di CC Garuda hingga sekarang di tempat kerjaan yang baru. Orangnya sih cool dan cuek tapi jika kamu sudah kenal dengannya dia bisa gokil dan seru-seruan. Suaranya bagus dan ’empuk’ mirip suaranya Ridho Roma kalau dia lagi nyanyi. Dia juga mempunyai hobi yang sama denganku yaitu nonton film. Kita ini Movie Freak alias penyuka film. Kita sering bertukar film dan membahas banyak hal tentang film. Ya, I’m happy that I know him.

Dzulkarnain atau Zul adalah teman baru di kantorku yang sekarang. Dia supel, easy going dan sangat suka lagu dangdut. Rambut polem (poni lempar) adalah ciri khasnya. Zul seringkali membantuku dalam banyak hal terutama dalam pekerjaan. Kadang-kadang jika tim sedang ‘goyah’, Zul adalah orang yang paling mengerti dan membantuku menangani setiap permasalahan yang ada di antara anggota tim maupun dalam pekerjaan yang menuntut kita untuk fokus dan teliti. He’s really a good partner.

Terakhir adalah Bang Zidan. Dia adalah rekan kerja, sahabat sekaligus guru. Kalau sudah bercerita, dia suka heboh dan dapat membuat suasana kantor menjadi seru dan meriah. Bang Zidan juga seorang Ustadz. Dia banyak memberikan ceramah di berbagai masjid dan majlis taklim. Dia juga sering membagi banyak informasi serta mengingatkan kami tentang ajaran agama Islam.

Advertisements